Oleh:
Taufiq Ahmad Romdoni
Sumber gambar:
liputan6.com
Pelantun lagu
“Sayang”, Via Vallen saat ini sedang menjadi topik pembicaraan hangat di antara
warga net. Penyanyi dangdut yang memiliki jutaan penggemar tersebut sungguh “Sayang”
sedang dilanda kasus yang kurang mengenakkan. Di tengah puncak karir, Via
Vallen tentu dikenal oleh banyak orang, termasuk para selebritis hingga pesepakbola.
Via Vallen melalui akun instagram pribadinya mengunggah gambar percakapan yang
intinya adalah sebuah bentuk pelecehan seksual terhadap Via Vallen oleh salah
satu pesepakbola terkenal di Indonesia. Sontak, topik ini menjadi pembicaraan
yang sangat hangat di tengah-tengah kita. Tak sedikit warga net yang simpati
terhadap Via Vallen, tapi tak sedikit juga yang mencibir karena hanya dianggap
mencari sensasi.
Trending topic kasus Via Vallen sudah seperti
penyegar informasi di tengah-tengah isu-isu politik yang sangat rumit. Apalagi,
kasus ini melibatkan 2 objek yang memiliki basis penggemar di masyarakat,
dangdut dan sepakbola. Dua objek yang menjadi hiburan masyarakat di
tengah-tengah kemiskinan dan ketimpangan masyarakat Indonesia. Orang-orang
miskin walaupun bingung esok hari akan makan apa, jika sudah mendengarkan musik
dangdut maka persoalan kemiskinan seakan-akan lupa. Begitu juga sepakbola,
menjadi objek hiburan masyarakat di tengah ketidakpastian nasib hidup mereka. Oleh
karena itu, dangdut dan sepakbola memiliki basis penggemar yang besar di
Indonesia. Tak heran ketika muncul kasus yang melibatkan pedangdut dan
pesepakbola, masyarakat memiliki perhatian yang sangat lebih.
Perhatian masyarakat
terhadap kasus ini menarik untuk dibahas. Respon warga net menjadi terbagi ke
dalam dua respon yang saling berlawanan.
Satu sisi, masyarakat simpati terhadap Via Vallen. Namun di sisi yang lain tak
sedikit juga yang menganggap apa yang dilakukan Via Vallen adalah hal yang
berlebihan. Hal ini menarik untuk dibahas lebih lanjut mengapa bisa muncul
respon masyarakat yang tidak simpati terhadap Via Vallen. Harus diakui, penulis
juga merupakan penggemar Via Vallen, tapi apakah penulis berpihak kepada Via
Vallen karena atas dasar penilaian subjektif belaka? Nampaknya saya juga perlu fair
dan komprehensif melihat kasus ini sebagai suatu permasalahan.
Permasalahan pelecehan
seksual terhadap wanita memang sudah sangat marak terjadi di Indonesia. Menurut
Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2018, terdapat 348.446 kasus kekerasan
yang dilaporkan dan ditangai oleh Komnas Perempuan selama tahun 2017. Kekerasan
yang terjadi pada perempuan terbagi ke dalam 3 ranah yaitu ranah personal,
publik dan negara. Pada ranah personal, kekerasan seksual memiliki persentase
sebesar 31%. Sedangkan pada ranah publik, kekerasan mencapai angka 3.528, di
mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.670 kasus (76%). Data
tersebut menujukkan bahwa permasalahan kekerasan seksual merupakan permasalahan
yang sudah sangat kritis. Oleh karena itu, penting sekali menyikapi kasus yang
menimpa pada pedangdut Via Vallen.
Pelecehan seksual
merupakan bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara
sepihak dan tidak dikehendaki oleh korbannya. Bentuk pelecehan seksual dapat
berupa simbol, ucapan, tulisan dan isyarat yang memiliki maksud seksual. Disebut sebagai pelecehan seksual apabila
kejadian ditentukan oleh motivasi pelaku dan tidak diingikan oleh korban dan
mengakibatkan terganggunya diri penerima pelecehan.
Kekerasan seksual yang
terjadi pada Via Vallen dapat termasuk ke dalam gender related violence atau
kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu. Pada dasarnya, kekerasan gender
disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam sebuah struktur
masyarakat. Adanya ketidaksetaraan menyebabkan ketimpangan relasi kuasa sehingga
menempatkan perempuan berada pada posisi subordinat.
Yang menarik dari kasus
Via Vallen diataranya adalah adanya respon negatif dari para warga net terhadap
apa yang dilakukan Via Vallen. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan relasi
gender merupakan hal yang tabu di masyarakat. Kultur patriarki yang sudah
melekat pada masyarakat dapat menjadi penyebab mengapa sebagian masyarakat
memiliki pandangan yang tidak simpati terhadap Via Vallen. Kultur patriarki
memberikan legitimasi pada tindakan pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki. Laki-laki
memiliki posisi yang dominan sehingga memiliki kekuatan dominan terhadap
perempuan. Oleh karena itu laki-laki dapat melakukan kekerasan seksual terhadap
perempuan.
Warga net tidak hanya
mencibir sebatas pada persoalan tersebut, namun terdapat pandangan lain yang
menyebutkan bahwa sangat wajar jika hal ini terjadi karena Via Vallen adalah
pedangdut yang notabene menjadi pemicu kekerasan seksual. Hal tersebut juga merupakan permasalahan termasuk
ke dalam permasalahan stereotipe terhadap wanita. Penyanyi dangdut memiliki
kesan di mata masyarakat sebagai musik yang dekat dengan seksualitas. Tak aneh
jika bumbu-bumbu musik dangdut dihiasi oleh goyangan yang dapat membangkitkan
hasrat seksual. Oleh karena itu, sebagian masyarakat berpandangan bahwa
kekerasan yang terjadi pada Via Vallen masih dapat disebabkan oleh Via Vallen
itu sendiri. Hal tersebut tetap tidak dapat dibenarkan dan dijadikan sebagai
dalih pelecehan seksual. Permasalahan pelecehan seksual ini “toh” banyak juga
menimpa di luar penyanyi dangdut. Soal stereotipe pedangdut wanita yang menjadi
pemicu kekerasan seksual tetap termasuk ke dalam hal yang disebabkan oleh ketiadk
adilan dalam relasi gender. Yang perlu diperhatikan adalah, Via Vallen
merupakan pedangdut dengan membawa nuansa yang baru dalam nuansa dangdut di
Indonesia. Via Vallen tidak menawarkan goyangan yang selama ini menjadi bumbu
dalam dangdut. Via Vallen menawarkan dangdut yang lebih santun dan genre musik
yang milenial. Oleh karena itu Via Vallen dapat diterima di banyak lapisan
masyarakat, termasuk para pemuda milenial saat ini.
Pandangan sebagian
masyarakat yang mencibir terhadap Via Vallen menunjukkan masih dipeliharanya
praktek-praktek untuk mempertahankan ketimpangan relasi gender. Apa yang
dilakukan oleh Via Vallen merupakan satu langkah yang tepat untuk
mempertahankan dirinya dari pelecehan seksual. Pelecehan seksual bukan untuk
dipelihara, namun dilawan. Namun ada yang lebih berbahaya daripada kasus
pelecehan itu sendiri, yaitu kultur-kultur yang masih dipelihara masyarakat yang
akhirnya memproduksi ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Semoga
para masyarakat terlebih instansi terkait dapat mendengarkan “Jerite atiku” nya
Via Vallen.





