Rabu, 06 Juni 2018

Tulisan "Sayang" untuk Via Vallen


Oleh: Taufiq Ahmad Romdoni


Sumber gambar: liputan6.com

Pelantun lagu “Sayang”, Via Vallen saat ini sedang menjadi topik pembicaraan hangat di antara warga net. Penyanyi dangdut yang memiliki jutaan penggemar tersebut sungguh “Sayang” sedang dilanda kasus yang kurang mengenakkan. Di tengah puncak karir, Via Vallen tentu dikenal oleh banyak orang, termasuk para selebritis hingga pesepakbola. Via Vallen melalui akun instagram pribadinya mengunggah gambar percakapan yang intinya adalah sebuah bentuk pelecehan seksual terhadap Via Vallen oleh salah satu pesepakbola terkenal di Indonesia. Sontak, topik ini menjadi pembicaraan yang sangat hangat di tengah-tengah kita. Tak sedikit warga net yang simpati terhadap Via Vallen, tapi tak sedikit juga yang mencibir karena hanya dianggap mencari sensasi.
Trending topic kasus Via Vallen sudah seperti penyegar informasi di tengah-tengah isu-isu politik yang sangat rumit. Apalagi, kasus ini melibatkan 2 objek yang memiliki basis penggemar di masyarakat, dangdut dan sepakbola. Dua objek yang menjadi hiburan masyarakat di tengah-tengah kemiskinan dan ketimpangan masyarakat Indonesia. Orang-orang miskin walaupun bingung esok hari akan makan apa, jika sudah mendengarkan musik dangdut maka persoalan kemiskinan seakan-akan lupa. Begitu juga sepakbola, menjadi objek hiburan masyarakat di tengah ketidakpastian nasib hidup mereka. Oleh karena itu, dangdut dan sepakbola memiliki basis penggemar yang besar di Indonesia. Tak heran ketika muncul kasus yang melibatkan pedangdut dan pesepakbola, masyarakat memiliki perhatian yang sangat lebih.
Perhatian masyarakat terhadap kasus ini menarik untuk dibahas. Respon warga net menjadi terbagi ke dalam dua  respon yang saling berlawanan. Satu sisi, masyarakat simpati terhadap Via Vallen. Namun di sisi yang lain tak sedikit juga yang menganggap apa yang dilakukan Via Vallen adalah hal yang berlebihan. Hal ini menarik untuk dibahas lebih lanjut mengapa bisa muncul respon masyarakat yang tidak simpati terhadap Via Vallen. Harus diakui, penulis juga merupakan penggemar Via Vallen, tapi apakah penulis berpihak kepada Via Vallen karena atas dasar penilaian subjektif belaka? Nampaknya saya juga perlu fair dan komprehensif melihat kasus ini sebagai suatu permasalahan.
Permasalahan pelecehan seksual terhadap wanita memang sudah sangat marak terjadi di Indonesia. Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2018, terdapat 348.446 kasus kekerasan yang dilaporkan dan ditangai oleh Komnas Perempuan selama tahun 2017. Kekerasan yang terjadi pada perempuan terbagi ke dalam 3 ranah yaitu ranah personal, publik dan negara. Pada ranah personal, kekerasan seksual memiliki persentase sebesar 31%. Sedangkan pada ranah publik, kekerasan mencapai angka 3.528, di mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.670 kasus (76%). Data tersebut menujukkan bahwa permasalahan kekerasan seksual merupakan permasalahan yang sudah sangat kritis. Oleh karena itu, penting sekali menyikapi kasus yang menimpa pada pedangdut Via Vallen.
Pelecehan seksual merupakan bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak dikehendaki oleh korbannya. Bentuk pelecehan seksual dapat berupa simbol, ucapan, tulisan dan isyarat yang memiliki maksud seksual.  Disebut sebagai pelecehan seksual apabila kejadian ditentukan oleh motivasi pelaku dan tidak diingikan oleh korban dan mengakibatkan terganggunya diri penerima pelecehan.
Kekerasan seksual yang terjadi pada Via Vallen dapat termasuk ke dalam gender related violence atau kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu. Pada dasarnya, kekerasan gender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam sebuah struktur masyarakat. Adanya ketidaksetaraan menyebabkan ketimpangan relasi kuasa sehingga menempatkan perempuan berada pada posisi subordinat.
Yang menarik dari kasus Via Vallen diataranya adalah adanya respon negatif dari para warga net terhadap apa yang dilakukan Via Vallen. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan relasi gender merupakan hal yang tabu di masyarakat. Kultur patriarki yang sudah melekat pada masyarakat dapat menjadi penyebab mengapa sebagian masyarakat memiliki pandangan yang tidak simpati terhadap Via Vallen. Kultur patriarki memberikan legitimasi pada tindakan pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki. Laki-laki memiliki posisi yang dominan sehingga memiliki kekuatan dominan terhadap perempuan. Oleh karena itu laki-laki dapat melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan.
Warga net tidak hanya mencibir sebatas pada persoalan tersebut, namun terdapat pandangan lain yang menyebutkan bahwa sangat wajar jika hal ini terjadi karena Via Vallen adalah pedangdut yang notabene menjadi pemicu kekerasan seksual.  Hal tersebut juga merupakan permasalahan termasuk ke dalam permasalahan stereotipe terhadap wanita. Penyanyi dangdut memiliki kesan di mata masyarakat sebagai musik yang dekat dengan seksualitas. Tak aneh jika bumbu-bumbu musik dangdut dihiasi oleh goyangan yang dapat membangkitkan hasrat seksual. Oleh karena itu, sebagian masyarakat berpandangan bahwa kekerasan yang terjadi pada Via Vallen masih dapat disebabkan oleh Via Vallen itu sendiri. Hal tersebut tetap tidak dapat dibenarkan dan dijadikan sebagai dalih pelecehan seksual. Permasalahan pelecehan seksual ini “toh” banyak juga menimpa di luar penyanyi dangdut. Soal stereotipe pedangdut wanita yang menjadi pemicu kekerasan seksual tetap termasuk ke dalam hal yang disebabkan oleh ketiadk adilan dalam relasi gender. Yang perlu diperhatikan adalah, Via Vallen merupakan pedangdut dengan membawa nuansa yang baru dalam nuansa dangdut di Indonesia. Via Vallen tidak menawarkan goyangan yang selama ini menjadi bumbu dalam dangdut. Via Vallen menawarkan dangdut yang lebih santun dan genre musik yang milenial. Oleh karena itu Via Vallen dapat diterima di banyak lapisan masyarakat, termasuk para pemuda milenial saat ini.
Pandangan sebagian masyarakat yang mencibir terhadap Via Vallen menunjukkan masih dipeliharanya praktek-praktek untuk mempertahankan ketimpangan relasi gender. Apa yang dilakukan oleh Via Vallen merupakan satu langkah yang tepat untuk mempertahankan dirinya dari pelecehan seksual. Pelecehan seksual bukan untuk dipelihara, namun dilawan. Namun ada yang lebih berbahaya daripada kasus pelecehan itu sendiri, yaitu kultur-kultur yang masih dipelihara masyarakat yang akhirnya memproduksi ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Semoga para masyarakat terlebih instansi terkait dapat mendengarkan “Jerite atiku” nya Via Vallen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar