Oleh: Taufiq Ahmad Romdoni
Deputi Mina
Sosial Politik, Kementerian Advokasi dan Kajian Strategis BEM FPIK Unsoed
Visi
pemerintahan Jokowi-JK yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara poros
maritim dunia patut diapresiasi. Kondisi geografis negara Indonesia sebagai
negara kepualauan, menjadikan negara ini memiliki luas wilayah laut sebesar dua
per tiga dari luas seluruh Indonesia. Kekayaan alam yang terkandung dalam laut
sudah sepatutnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat yang
sebesar-besarnya. Potensi yang dapat dimanfaatkan dari hasil laut diantaranya
adalah perikanan, bioteknologi, minyak bumi, transportasi laut dan pariwisata.
Data Kementerian Perikanan dan Kelautan pada tahun 2014 menyebutkan, nilai
potensi dan kekayaan sumber daya alam yang terdapat pada sektor kelautan dan
perikanan dapat mencapai 171 miliar USD per tahun. Sektor perikanan merupakan
salah satu komponen yang menyumbang potensi tersebut dengan nilai potensi
sebesar 32 miliar USD.
Berbagai
jenis ikan yang merupakan komoditas penting dan bernilai ekonomis dihasilkan
dari produksi ikan nasional. Pada tahun 2013, produksi perikanan Indonesia
sebesar 11,06 juta ton, yang terbagi dari perikanan tangkap sebesar 5,86 juta
ton dan perikanan budidaya sebesar 5,2 juta ton. Kinerja ekspor pada 2013
menghasilkan nilai tambah ekonomi sebesar US$ 4.181 juta dengan komposisi udang
sebesar US$ 1.614 juta, tuna sebesar US$ 764 juta, kepiting dan rajungan
sebesar US$ 359 juta dan ikan lainnya sebesar US$ 857 juta. Diharapkan pada
tahun 2016 dapat mencapai US$ 6.820 juta.
Sumber:
news.okezone.com
Namun,
melimpahnya hasil produksi perikanan di Indonesia, tidak didukung dengan
tingkat konsumsi ikan yang masih tergolong rendah. Data tahun 2015 menunjukkan
tingkat konsumsi ikan di Indonesia adalah 41,11 kg/kapita/tahun. Angka tersebut
masih tergolong rendah. Jika kita bandingkan dengan negara lain seperti Malaysia,
sudah mencapai 58 kg/kapita/tahun dan Myanmar sebesar 55 kg/kapita/tahun. Rendahnya
tingkat konsumsi ikan pada masyarakat dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya
adalah masih minimnya infrastruktur perikanan, pelabuhan, pasar ikan dan
trasnportasi yang dapat menunjang akses distribusi hasil perikanan. Kemudian,
kurangnya pemahaman masyarakat tentang kebermanfaatan mengkonsumsi ikan. Ikan
memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Kandungan yang terdapat pada ikan
diataranya adalah Omega 3 yang bermanfaat untuk perkembangan sel otak, protein
yang dapat dijadikan sebagai zat pembangun dan pertumbuhan, vitamin yang
berperan sebagai antioksidan, senyawa bio aktif yang dapat menguatkan vitalitas
tubuh dan mineral sebagai pencegah gondok dan mengandung zat besi.
Jika
kita bandingkan tingkat konsumsi ikan pada masyarakat Indonesia dengan
masyarakat Jepang, memiliki perbedaan yang sangat jauh. Tingkat konsumsi ikan
pada masyarakat Jepang sudah mencapai 70 kg/kapita/tahun. Kegemaran masyarakat
Jepang mengkonsumsi ikan, tergambar dengan kualitas sumberdaya manusia yang
sangat baik. Sehingga saat ini Jepang merupakan salah satu negara maju yang
didukung dengan produksi teknologi, industri dan ilmu pengetahuan yang sangat
maju.
Hari
Ikan Nasional yang jatuh pada 21 November ditetapkan melalui Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014. Tanggal tersebut juga bertepatan dengan
peringatan World Fisheries Day. Hari Ikan
Nasional, sudah sepatutnya dijadikan sebagai momentum kebangkitan Indonesia
dalam menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Tidak hanya itu, Hari
Ikan Nasional harus dijadikan sebagai titik tolak pembangunan negara Indonesia.
Sebagai negara yang memiliki luas lautan yang dominan, seharusnya komoditas
ikan dijadikan sebagai komoditas utama dalam pembangunan. Rendahnya gizi
masyarakat Indonesia, harus ditingkatkan dengan berbagai upaya untuk menjadikan
masyarakat gemar dalam mengkonsumsi makanan bergizi.
Ikan
merupakan solusi dalam mengentaskan rendahnya gizi masyarakat Indonesia. Mendorong
masyarakat untuk gemar mengkonsumsi ikan merupakan hal yang paling utama. Hal tersebut
juga harus didukung dengan sarana perikanan yang memadai. Distribusi hasil
perikanan harus mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Masih sedikitnya
pasar ikan dan sarana cold storage yang
kurang memadai menjadi masalah yang menjadikan masyarakat rendah dalam
mengkonsumsi ikan. Selain itu, hasil perikanan baik itu perikanan tangkap dan
budidaya, terkadang belum didukung dengan industri pengolahan. Hal ini
menyebabkan hasil produksi perikanan kurang terserap dengan baik, sehingga
rantai produksi perikanan belum optimal sampai kepada masyarakat. Pemerintah perlu
menjadikan hasil perikanan sebagai komoditas yang dapat dijangkau oleh
masyarakat. Sebagian masyarakat masih belum mampu membeli ikan dikarenakan
harga yang tidak terjangkau. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu menyediakan
sarana dan pra sarana seperti pasar ikan.
Sudah
saatnya, Indonesia bangkit, bangun dari tidurnya yang panjang untuk mampu
membangun dunia perikanan dan kelautan. Cita-cita Indonesia sebagai poros
maritim dunia, harus mampu didukung dengan tingkat konsumsi ikan masyarakat
Indonesia. Dengan meningkatnya konsumsi ikan, diharapkan kualitas gizi
masyarakat akan semakin baik dan akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
Indonesia.
