Minggu, 20 November 2016

HARI IKAN NASIONAL, MOMENTUM PENINGKATAN GIZI DAN POROS MARITIM DUNIA

Oleh: Taufiq Ahmad Romdoni
Deputi Mina Sosial Politik, Kementerian Advokasi dan Kajian Strategis BEM FPIK Unsoed

Visi pemerintahan Jokowi-JK yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia patut diapresiasi. Kondisi geografis negara Indonesia sebagai negara kepualauan, menjadikan negara ini memiliki luas wilayah laut sebesar dua per tiga dari luas seluruh Indonesia. Kekayaan alam yang terkandung dalam laut sudah sepatutnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat yang sebesar-besarnya. Potensi yang dapat dimanfaatkan dari hasil laut diantaranya adalah perikanan, bioteknologi, minyak bumi, transportasi laut dan pariwisata. Data Kementerian Perikanan dan Kelautan pada tahun 2014 menyebutkan, nilai potensi dan kekayaan sumber daya alam yang terdapat pada sektor kelautan dan perikanan dapat mencapai 171 miliar USD per tahun. Sektor perikanan merupakan salah satu komponen yang menyumbang potensi tersebut dengan nilai potensi sebesar 32 miliar USD.

Berbagai jenis ikan yang merupakan komoditas penting dan bernilai ekonomis dihasilkan dari produksi ikan nasional. Pada tahun 2013, produksi perikanan Indonesia sebesar 11,06 juta ton, yang terbagi dari perikanan tangkap sebesar 5,86 juta ton dan perikanan budidaya sebesar 5,2 juta ton. Kinerja ekspor pada 2013 menghasilkan nilai tambah ekonomi sebesar US$ 4.181 juta dengan komposisi udang sebesar US$ 1.614 juta, tuna sebesar US$ 764 juta, kepiting dan rajungan sebesar US$ 359 juta dan ikan lainnya sebesar US$ 857 juta. Diharapkan pada tahun 2016 dapat mencapai US$ 6.820 juta.
Sumber: news.okezone.com

Namun, melimpahnya hasil produksi perikanan di Indonesia, tidak didukung dengan tingkat konsumsi ikan yang masih tergolong rendah. Data tahun 2015 menunjukkan tingkat konsumsi ikan di Indonesia adalah 41,11 kg/kapita/tahun. Angka tersebut masih tergolong rendah. Jika kita bandingkan dengan negara lain seperti Malaysia, sudah mencapai 58 kg/kapita/tahun dan Myanmar sebesar 55 kg/kapita/tahun. Rendahnya tingkat konsumsi ikan pada masyarakat dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya adalah masih minimnya infrastruktur perikanan, pelabuhan, pasar ikan dan trasnportasi yang dapat menunjang akses distribusi hasil perikanan. Kemudian, kurangnya pemahaman masyarakat tentang kebermanfaatan mengkonsumsi ikan. Ikan memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Kandungan yang terdapat pada ikan diataranya adalah Omega 3 yang bermanfaat untuk perkembangan sel otak, protein yang dapat dijadikan sebagai zat pembangun dan pertumbuhan, vitamin yang berperan sebagai antioksidan, senyawa bio aktif yang dapat menguatkan vitalitas tubuh dan mineral sebagai pencegah gondok dan mengandung zat besi.

Jika kita bandingkan tingkat konsumsi ikan pada masyarakat Indonesia dengan masyarakat Jepang, memiliki perbedaan yang sangat jauh. Tingkat konsumsi ikan pada masyarakat Jepang sudah mencapai 70 kg/kapita/tahun. Kegemaran masyarakat Jepang mengkonsumsi ikan, tergambar dengan kualitas sumberdaya manusia yang sangat baik. Sehingga saat ini Jepang merupakan salah satu negara maju yang didukung dengan produksi teknologi, industri dan ilmu pengetahuan yang sangat maju.

Hari Ikan Nasional yang jatuh pada 21 November ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014. Tanggal tersebut juga bertepatan dengan peringatan World Fisheries Day. Hari Ikan Nasional, sudah sepatutnya dijadikan sebagai momentum kebangkitan Indonesia dalam menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Tidak hanya itu, Hari Ikan Nasional harus dijadikan sebagai titik tolak pembangunan negara Indonesia. Sebagai negara yang memiliki luas lautan yang dominan, seharusnya komoditas ikan dijadikan sebagai komoditas utama dalam pembangunan. Rendahnya gizi masyarakat Indonesia, harus ditingkatkan dengan berbagai upaya untuk menjadikan masyarakat gemar dalam mengkonsumsi makanan bergizi.

Ikan merupakan solusi dalam mengentaskan rendahnya gizi masyarakat Indonesia. Mendorong masyarakat untuk gemar mengkonsumsi ikan merupakan hal yang paling utama. Hal tersebut juga harus didukung dengan sarana perikanan yang memadai. Distribusi hasil perikanan harus mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Masih sedikitnya pasar ikan dan sarana cold storage yang kurang memadai menjadi masalah yang menjadikan masyarakat rendah dalam mengkonsumsi ikan. Selain itu, hasil perikanan baik itu perikanan tangkap dan budidaya, terkadang belum didukung dengan industri pengolahan. Hal ini menyebabkan hasil produksi perikanan kurang terserap dengan baik, sehingga rantai produksi perikanan belum optimal sampai kepada masyarakat. Pemerintah perlu menjadikan hasil perikanan sebagai komoditas yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Sebagian masyarakat masih belum mampu membeli ikan dikarenakan harga yang tidak terjangkau. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu menyediakan sarana dan pra sarana seperti pasar ikan.


Sudah saatnya, Indonesia bangkit, bangun dari tidurnya yang panjang untuk mampu membangun dunia perikanan dan kelautan. Cita-cita Indonesia sebagai poros maritim dunia, harus mampu didukung dengan tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia. Dengan meningkatnya konsumsi ikan, diharapkan kualitas gizi masyarakat akan semakin baik dan akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar