Selasa, 14 Juni 2016

BERGERAK ATAU MATI


Di pagi hari kemarin, kampus biru FPIK diselimuti awan kabut yang sejuk. Sejuknya awan pagi pagi tadi, ada yang berbeda dari biasanya. Di depan kampus biru FPIK telah terpampang spanduk bertuliskan “Menolak Uang Pangkal”. Entah siapa yang memasang,  bagi kami advokasi BEM FPIK ini hal yang menarik untuk ditelusuri. Ada apa sebenarnya dengan FPIK itu sendiri sehingga sampai muncul spanduk menolak adanya uang pangkal di Unsoed itu sendiri. Bagi kami, ini adalah hal yang telah menjadi keluh kesah kami mahasiswa dari dulu hingga kini. Bagaimana tidak, sepengamatan kami selama memantau kegiatan penerimaan mahasiswa baru khususnya FPIK tahun 2016. Banyak yang tergolong ke dalam UKT 7 juta rupiah. Luar biasa! UKT tertinggi tahun lalu saja hanya 3 juta rupiah, naik lebih dari 100%!. Lalu kami advokasi sudah banyak menerima keluh kesah dan laporan para mahasiswa baru FPIK 2016 yang mengeluhkan tingginya UKT, terutama golongan 7 juta rupiah. Banyak diantara mereka yang melaporkan kepada kami bahwa penghasilan orang tua mereka, kurang proporsional dengan biaya UKT yang harus dibayarkan. Sangat disayangkan sekali, hal ini diperburuk dengan kuota bidikmisi untuk tahun angkatan 2016 akan dikurangi dari kuota seperti tahun lalu. Lalu hanya itu? Tidak!, hal ini makin diperburuk dengan uang pangkal yang harus dibayarkan para mahasiswa baru, khususnya jalur SPMB. Sudah UKT tinggi, ditambah uang pangkal pula. Kami tidak membayangkan bagaimana nasib orang tua mereka yang tidak mampu memenuhi tuntutan biaya dan merasa hak mereka dalam mendapatkan pendidikan dimusnahkan hanya karena biaya UKT.

Lalu sebetulnya apa alasan diberlakukannya kenaikan UKT dan juga uang pangkal? Seperti telah kita ketahui, di FPIK itu sendiri terdapat kegiatan praktikum lapangan yang menjadi kaidah dalam pengambilan sampel dalam dunia ilmiah. Namun kegiatan praktikum lapangan itu sendiri masih membebankan biaya kepada mahasiswa khususnya biaya transportasi dan juga penginapan. Biaya yang dikeluarkan pun bervariasi, 100 ribu, 200 ribu, 300 ribu dan 500 ribu. Kenapa hal ini dilakukan, hal ini dilakukan karena UKT yang telah ditetapkan selama ini belum mampu menutupi kebutuhan biaya seperti praktikum itu sendiri. Lalu pembangunan infrastruktur yang mangkrak dikarenakan biaya, coba ditutupi dengan memberlakukan uang pangkal. Jika sudah seperti ini, maka kapitalisme pendidikan pun dimulai. Siapa saja yang bermodal, maka dialah yang berhak mendapatkan pendidikan. Sebetulnya hal ini merupakan gambaran bahwa Universitas itu sendiri belum mampu mengoptimalkan badan layanan umumnya untuk menghasilkan uang. Banyak aset-aset yang belum teroptimalkan untuk dimanfaatkan sebagai sumber pemasukan uang. Kenapa harus mahasiswa yang dibebankan untuk menutupi kebutuhan operasional kampus itu sendiri? Haruskah ada lagi mahasiswa yang gagal bersekolah hanya karena dibebankan biaya untuk pembangunan kampus?

Lalu Kita sebagai mahasiswa harus bagaimana? Diam kah? Berkutat dengan tugas kah? Laporan kah? Atau kita mau meluangkan sedikit bahkan banyak waktu kita sebentar saja memikirkan nasib-nasib orang diluar sana yang sangat ingin kuliah namun terbebani dengan kebijakan kampus. Disinilah momentum kita, sejarah selalu mencatat mahasiswa sebagai agen perubahan agen revolusioner. Turunnya rezim orde lama, karena mahasiswa, turunnya orde diktator rezim orde baru, karena kepedulian mahasiswa. Dan sampai saat ini akhirnya kita bisa menikmati zaman reformasi, dimana setiap orang bebas mengeluarkan pendapat, berorganisasi, dan tidak diintimidasi oleh rezim. Hal itu karena siapa? Karena mahasiswa! Kami meyakini bahwa mahasiswa bergerak atas dasar pikiran yang rasional. Namun serasionalnya permasalahan tadi, tidak akan berguna jika kita hanya diam saja. Kita harus bergerak, buka mata kita, buka hati nurani kita, lihatlah ternyata masih banyak kawan-kawan kita yang ingin mendapatkan hak pendidikan namun dihalangi oleh beban kebijakan. Disinilah, saat inilah, apakah kita akan diam seperti organisme yang mati? Atau kita akan mulai bangun dan bergerak? Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membalas orang yang ingin berjuang dalam hal kebaikan. Amiin.

#soedirmanmelawan

Deputi Sosial Politik, KemenAdvokastrat BEM FPIK 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar